Selasa, 23 Februari 2010

Fauzan Berharap Dapat Jaminan Berobat Gratis

This article explains a few things about news, and if you're interested, then this is worth reading, because you can never tell what you don't know.
Jakarta, Kompas - Lantaran tidak mempunyai kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat atau Jamkesmas, Ahmad Fauzan terpaksa menunda pengobatan, Selasa (23/2). Bocah berumur setahun yang mengalami pembesaran kepala atau hidrosefalus ini hanya diberi obat gratis untuk sepekan mendatang.

Fauzan dibawa orangtuanya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) agar diobati penyakitnya yang diderita sejak dalam kandungan. Pihak RSCM menyarankan orangtua Fauzan mengurus surat Jamkesmas agar biaya pengobatan ditanggung negara. Biaya CT-scan Rp 800.000 dan bisa dilakukan saat ini juga. Tetapi, karena kami tidak punya uang, pemeriksaan kesehatan itu terpaksa ditangguhkan sampai ada kartu Jamkesmas, kata Gerhanama (26), ayah Fauzan.

Cairan yang menumpuk membuat kepala Fauzan sebesar bantal. Saat tengah menanti obat gratis untuk sepekan dari pihak rumah sakit, Fauzan ditidurkan di sebuah kursi kayu di belakang rumah sakit.

Gerhanama sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan dengan upah harian Rp 40.000. Namun, kini dia banyak menganggur lantaran tidak banyak pekerjaan. Sementara Sutinah (25) menjadi ibu rumah tangga.

If you find yourself confused by what you've read to this point, don't despair. Everything should be crystal clear by the time you finish.

Fauzan bersama orangtuanya tinggal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Sunter. Rumah itu sengaja dikontrak sejak keluarga memutuskan Fauzan menjalani pengobatan di RSCM. Semula, Fauzan diobati seadanya di Subang, Jawa Barat.

Kepala Bagian Pemasaran dan Humas RSCM Antaria mengatakan, pihak keluarga diberi waktu 3 x 24 jam untuk mengurus Jamkesmas. Setelah ada Jamkesmas, baru ada penanganan medis untuk pasien, baik berupa rawat inap maupun rawat jalan.

Pasien lainnya, Soleh (17 bulan), penderita hidrosefalus dan aneka penyakit lain, masih harus menjalani pengobatan kendati surat keterangan tidak mampu (SKTM) sudah habis masa berlakunya pada Oktober 2009.

Kini, Soleh mendapatkan SKTM yang hanya menanggung pembebasan biaya pengobatan sebesar 50 persen. Sisa biaya pengobatan ditanggung keluarga. Kondisi ini membuat keluarga Soleh sulit meneruskan pengobatan untuk anak mereka. Selain menanggung sisa biaya pengobatan, keluarga juga harus membayar ongkos jalan dan kebutuhan harian Soleh.

Soleh masih harus menjalani operasi kelamin karena ada kelainan di kelaminnya. Selain itu, kaki Soleh juga tidak bisa bergerak sejak lahir, ujar Gina Rahmani (23), ibu Soleh. (art)

There's no doubt that the topic of news can be fascinating. If you still have unanswered questions about news, you may find what you're looking for in the next article.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar