Rabu, 14 April 2010

7 Persen Orang Indonesia Jantungan

Would you like to find out what those-in-the-know have to say about news? The information in the article below comes straight from well-informed experts with special knowledge about news.
JAKARTA, KOMPAS.com - Sekitar tujuh persen penduduk Indonesia menderita gangguan jantung. Padahal, penyakit jantung saat ini merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Demikian menurut hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 yang diadakan oleh Departemen Kesehatan.

Hal tersebut diungkapkan dr.Delima M.Kes dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) dalam acara seminar Upaya Preventif dan Promotif Mengatasi Gangguan Sirkulasi Darah di Jakarta (14/4).

"Dari tujuh persen populasi, 0,9 persen sudah didiagnosis dokter dan sisanya menurut gejala-gejala gangguan jantung," papar dr.Delima.

How can you put a limit on learning more? The next section may contain that one little bit of wisdom that changes everything.

Berdasarkan prevalensinya, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) menduduki urutan pertama penyakit jantung di Indonesia yakni 12,6 persen. Sedangkan Lampung menempati urutan terakhir, 2,6 persen.

Hasil survei juga menunjukkan, tidak ada kaitan antara status ekonomis sosial dan pendidikan dengan kejadian penyakit jantung. "Penderita penyakit jantung justru lebih tinggi di pedesaan. Mungkin karena masyarakatnya belum peduli pada kesehatan," kata Delima. Sementara itu, perempuan lebih banyak yang menderita penyakit jantung dibanding laki-laki.

Faktor determinan penyakit jantung untuk penduduk di atas usia 15 tahun antara lain adalah diabetes melitus (39 %), hipertensi (13,1 %), obesitas (11,4 %), dan perokok (9,7 %). Sedangkan faktor gaya hidup yang berpengaruh pada risiko penyakit jantung antara lain kurang aktivitas fisik, merokok, pola makan tinggi lemak, serta kebiasaan mengonsumsi alkohol.

Riskesdas 2007 dilakukan di 33 provinsi dan 440 Kabupaten/Kota dengan populasi seluruh penduduk Indonesia. Data dikumpulkan tahun 2007-2008.

This article's coverage of the information is as complete as it can be today. But you should always leave open the possibility that future research could uncover new facts.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar