Jumat, 14 Mei 2010

Negara Berkembang Inginkan Transparansi

In today's world, it seems that almost any topic is open for debate. While I was gathering facts for this article, I was quite surprised to find some of the issues I thought were settled are actually still being openly discussed.
Jakarta, Kompas - Terkait persoalan transfer dan pemanfaatan materi biologi serta spesimen virus, Indonesia dan sejumlah negara berkembang menginginkan adanya transparansi dari pihak negara maju.

Kesepakatan tentang transparansi itu diharapkan tercapai di World Health Assembly (WHA), 16-21 Mei 2010. WHA merupakan sidang tertinggi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dilakukan setahun sekali.

Indonesia berharap agar persoalan itu selesai dan menjadi resolusi, ujar Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam jumpa pers, Jumat (14/5).

Dia mengatakan, pemerintah negara berkembang menginginkan mekanisme yang lebih ketat dan tercatat dalam pembagian informasi soal spesimen virus.

Hopefully the information presented so far has been applicable. You might also want to consider the following:

Selain itu, diharapkan juga ada pembagian keuntungan bagi negara pengirim virus serta penggunaannya dalam bentuk obat dan vaksin.

Produsen vaksin dituntut menyisihkan sebagian produknya sebagai persediaan agar negara berkembang dapat mengakses vaksin. Negara maju juga diharapkan menjamin ketersediaan dana sebagai persiapan menghadapi pandemi. Beberapa negara maju sudah menyatakan komitmennya, tetapi negara berkembang ingin ada jaminan bahwa dana itu ada terus. Perlu dicari mekanisme agar dana selalu terisi, lanjutnya.

Delegasi, ujarnya, datang tidak untuk berdebat karena pandemi bukan soal kalah dan menang. Dalam penanganan pandemi, tak boleh ada rantai yang lemah atau seluruh sistem akan runtuh.

Pidato mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada sidang Intergovernmental Meeting on Pandemic Influenza Preparedness (IGM-PIP), 20 November 2007, berisi kritik pada cara-cara WHO dalam masalah virus sharing yang tak adil, tak transparan, dan tak setara. Apalagi saat negara berkembang ditawari vaksin dengan harga tinggi (Kompas, 30 November 2007).

Sidang IGM-PIP akhirnya mengakui, sistem internasional virus sharing yang berlangsung 50 tahun ini memang tidak adil, tidak transparan, dan tidak setara serta menciptakan ketidakpercayaan masyarakat global.

Sidang IGM-PIP menyetujui usulan Indonesia membangun mekanisme virus sharing dan benefit sharing yang adil, transparan, dan setara bagi negara-negara berkembang. Namun, saat itu belum disepakati sistem baru virus sharing dan benefit sharing yang permanen. (INE)

There's a lot to understand about news. We were able to provide you with some of the facts above, but there is still plenty more to write about in subsequent articles.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar